Jadwal Padat, Taruna Harus Mahir Berbahasa Inggris – AKPOL Studi Banding ke Kampung Inggris Semarang

akpol
akpol

Dari kiri ke kanan: Ipda Sukirno, SH, AKP M. Adimas, SIK, Rohani, S.Pd, MA, AKP Kristian BM, SIK, Bripka Ali Iskandar KH

SEMARANG-Sebagai akademi pencetak para pimpinan bhayangkara negeri, Akademi Kepolisian (Akpol) dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi lulusannya. Para perwira yang telah lulus dari Akpol diharapkan tidak berhenti dalam meningkatkan kualifikasi mereka. Salah satunya adalah dengan menempuh pendidikan pascasarjana di luar negeri. Prasyarat wajib untuk menempuh pendidikan tersebut adalah kompetensi berbahasa Inggris yang tinggi.

Rabu siang (2/8) dua orang perwira dari Akpol, AKP M. Adimas, SIK dan AKP Kristian BM, SIK dengan didampingi Ipda Sukirno, SH dan Bripka Ali Iskandar KH dari Polsek Gunungpati bertandang ke LKP Kampung Inggris Semarang (dikenal juga dengan sebutan KING) dalam rangka studi banding. Studi banding bertujuan untuk menambah wawasan tentang metode pembelajaran dan pengelolaan kegiatan asrama yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris para siswa. Rombongan dari Akpol diterima oleh Rohani, S.Pd, MA  (pembina), Yunita Irmawati, S.Pd (Direktur), Kasanah, S.Pd (Kadiv Admin dan Accounting), dan beberapa staf KING.

AKP Kristian BM, SIK menuturkan bahwa para lulusan Akpol diharapkan memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni. “Mereka yang memenuhi syarat diharapkan bisa menempuh studi S2 ke luar negeri. Untuk itu, mereka harus memiliki skor TOEFL 600,” jelasnya. Jadwal perkuliahan di Akpol sangatlah padat. Sementara itu mata kuliah bahasa Inggris hanya 2 SKS. Oleh karena itu, sebagai pengasuh di resimen taruna, pihaknya merasa perlu mencari wawasan untuk bisa melakukan terobosan dengan pembiasaan berbahasa Inggris  di luar kelas atau di lingkungan resimen taruna.

Pembelajaran Praktis dan Menyenangkan

Pembina KING, Rohani, S.Pd, MA menjelaskan bahwa secara umum KING menerapkan metode pembelajaran yang fun (menyenangkan) dan practical (praktis). Pembelajaran yang menyenangkan diwujudkan dalam berbagai kegiatan interaktif yang langsung melibatkan para siswa dan menstimulasi potensi mereka. Teori kebahasaan, seperti grammar lebih sering diajarkan secara inductive. Siswa diberi contoh-contoh ujaran, mempraktekkannya, baru kemudian menarik kesimpulan untuk mengetahui pola gramatikanya. Semua kegiatan dan fasilitas di KING ditata sedemikian rupa sehingga memotivasi para siswa agar terus praktek berbahasa Inggris secara aktif. “Program camp bahasa Inggris di KING sangat intens. Ibaratnya siswa itu ngelindur saja dalam bahasa Inggris,” jelas Rohani sambil berkelakar.

Pada pertemuan yang berjalan akrab selama lebih dari dua jam tersebut ditayangkan pula video-video dokumenter kegiatan di KING. Rombongan dari Akpol juga menyempatkan meninjau berbagai fasilitas di KING.  Sebelum berpisah, Rohani menyarankan agar para pengasuh taruna di Akpol diberikan pelatihan berupa Train of the Trainers (TOT) agar mampu memotori pembiasaan penggunaan bahasa Inggris di resimen taruna. (Hamz)

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email
Please follow and like us:
5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *